Sore tadi saya berkunjung ke
Jogja Islamic Book Fair untuk membeli buku-buku pesanan teman saya, Meta.
Sebenarnya ini kali ke sekian saya kesana, namun tetap saja uang yang di dompet
terasa kurang. Alasannya sederhana, saya gak bisa menahan nafsu belanja.
Sekalipun sudah disiasati membawa uang pas-pasan (sesuai jumlah yang dikirimkan
Meta), tetap saja saya khilaf. Alhasil, selain membeli buku-buku pesanan Meta,
saya sendiri juga belanja [lagi].
Karena tidak tahan dengan
“hijaunya” buku-buku disana, saya memutuskan untuk buru-buru pulang. Nah, di
gerbang GOR UNY, ketika saya beranjak pulang, saya bertemu dengan teman saya,
DKA. DKA ini makhluk yang saya ceritakan di postingan sebelumnya.
Dia ke Book Fair bersama adiknya. Basa-basi sebentar, eh ini makhluk menanyakan
keberlangsungan thesis saya. Haduh. Saya cuma bisa ketawa-ketiwi gak jelas
saking bingung mau merespon apa. Topik pun beralih, kali ini menyoal sang
lelaki yang baru saja menikah dengan temannya DKA. Lagi-lagi saya cuma bisa
ketawa-ketiwi gak jelas. Iseng, saya menodong DKA dengan permintaan untuk
dicomblangkan juga, entah dengan siapa. Saya pikir lebih baik mengalihkan
topik, daripada lagi-lagi nantinya saya harus ketawa-ketiwi gak jelas karena
membahas thesis dan sang lelaki yang baru saja menikah. Di luar dugaan saya,
ternyata DKA antusias merespon permintaan saya. Mulailah saya ditanya
macam-macam perkara kriteria pria idaman. Haduh. Dalam hati saya membatin. Saya
sepertinya salah mencomot topik untuk mengalihkan pembicaraan. Dan di dalam
hati pun saya memberi jawaban atas sekian pertanyaannya, kriteria itu sejauh
ini ada di diri partner saya yang tidak dia kenal.
Karena saya tidak kunjung memberitahu kriteria
yang dia ingin tahu, DKA akhirnya menyatakan semacam kesimpulan, “Ah, ditanyain
thesis aja kau bingung apalagi diajak ngomongin pernikahan , ya?”. Gubraak.
Untunglah gerbang GOR sepi ketika dia melontarkan pernyataan itu tadi. Oh
kawan, mimpi apa saya semalam.
19.53
Unknown



0 komentar:
Posting Komentar