Seingat saya, awal perkenalan dengannya terjadi di bilangan
2009. Hari itu, ada permintaan pertemanan di notifikasi messenger. Saya curiga
dan terlanjur mengira ia salah seorang yang “dikirim” masa lalu untuk
memata-matai polah saya di dunia maya.
Meski curiga, toh permintaannya saya terima juga. Kepada saya
dia mengaku mendapatkan kontak saya dari milis yang sama-sama kami ikuti. Saya tak
langsung percaya. Meneruskan kebiasaan sedari kecil, saya mencari tahu
sedetail-detailnya mengenai dia hanya untuk memastikan bahwa saya berada di
lingkaran yang tepat. Ya, saya tipikal pemilih urusan segala hal, apalagi
menyangkut pertemanan.
Awalnya obrolan kami hanya seputar basa-basi perkenalan
biasa. Ia mengaku tengah berkutat dengan skripsinya, meski seringkali saya
dapati tautan yang dia kirimkan di inbox saya. Saya curiga dia bukannya
membereskan skripsi, tapi malah keasyikan pacaran dengan blognya. Dulunya saya
suka sebal, berpikir dia tukang pamer yang celakanya memang lihai menulis. Ah
ya, saya selalu tertarik dengan makhluk yang pintar menulis. Dengan catatan, sebatas
tertarik.
Pertemanan kami biasa-biasa saja. Hingga suatu waktu saya
merasa tersentil oleh sikapnya. Tidak ada yang salah, namun sisi kewanitaan
saya entah kenapa tidak mau kompromi kala itu. Serta merta saya menyerangnya
melalui racauan di inbox. Sangat ofensif. Itu yang pertama, dan saya berjanji
tidak lagi-lagi melakukan hal bodoh semacam itu. Padanya saya nyatakan
ketidaksukaan saya. Dia meminta maaf karena mungkin telah membuat saya berpikir
semua lelaki sama karena perilakunya yang tidak saya suka, meskipun pada
kenyataannya saya tidak punya pikiran seperti itu. Namun saya memilih diam saja
menyikapi prasangkanya.
Lepas kejadian itu, kami kembali seperti biasa. Sayangnya bendera
damai tak lama berkibar. Beberapa saat setelah kejadian penyerangan di inbox
itu, dia mengaku kepada saya memberikan id saya pada teman saya semasa SMA.
Mungkin ia tak kunjung tahu siapa wanita itu di mata saya, tapi kenyataan bahwa
ia menyebarkan id itu tanpa ijin membuat saya lagi-lagi kecewa.
Setelah kejadian itu, saya dan dia benar-benar berjarak. Benar-benar
abai. Saya enggan menyapanya di ranah maya, dan dia seolah memahaminya. Tak ada
lagi kunjungan-kunjungan rutin di blog, tidak ada diskusi-diskusi perkara remeh
temeh hingga mimpi-mimpi besar, tidak ada mention ataupun retweet di kancah
perkicauan sejagad, tidak ada komunikasi. Saya merasa ada yang hilang tapi
enggan mengaku kehilangan. Bahkan ketika pada akhirnya saya menatap wajahnya
langsung untuk pertama kalinya di acara akad seorang teman, saya merasa hampa.
Medio 2013, temannya yang juga teman saya, berkunjung ke
kontrakan saya. Si teman yang tidak tahu perkara “perang dingin yang tak bisa
disebut perang” malah dengan polosnya menceritakan curhatan dia, si lelaki,
kepada saya. Saya enggan sekaligus penasaran. Hingga mengalirlah sebagian (untungnya
bukan semua) cerita perkara dia yang mendamba pernikahan, perkara dia yang
mulai risau ketika teman-teman sebayanya sudah menjemput takdirnya
masing-masing, perkara dia yang tak bisa “melangkahi” kakaknya yang nomor dua, dan
perkara-perkara lainnya. Rasa penasaran saya tuntas, terbayar lunas. Tapi resah
yang saya alami kian bertambah dengan segumpal sesal. Kenapa mesti kepada saya
dia membocorkan curhatan si lelaki? Saya gagal untuk mengabaikan.
Seminggu yang lalu, tiba-tiba saya punya keinginan kuat
menghubungi sepupunya, tidak sempat bicara banyak memang, tapi itu semua cukup
untuk membuat saya mendeteksi ada sesuatu yang janggal. Dari seorang teman,
akhirnya saya mendapatkan kabar yang benar-benar mengejutkan, si lelaki akan
menikahi seorang teman, yang rupanya masih serumah dengan teman yang
menceritakan curhatan si lelaki pada saya. Jujur, saya gagal menyembunyikan
keterkejutan saya dan sialnya teman saya malah sukses menangkap ekspresi saya.
Lagi, untuk memastikan, saya mengunjungi blog si lelaki. Dan
sebuah undangan pernikahan yang manis terselip di antara sekian postingan. Saya
tak tahu definisi paling pas untuk mewakili perasaan saya. Mungkin sedikit
kecewa, namun jangan berpikir karena saya menginginkan dia. Tapi sisi baiknya,
saya lega. Betapa tidak, menyadari orang yang pernah ada di lingkaran kita
menemukan kebahagiaannya adalah kebahagiaan tersendiri yang sulit dimengerti.
Pada penghujung tahun lalu, dia menikahi perempuan
pilihannya. Saya? Ah, tahun ini saya hanya menginginkan menamatkan studi [dulu]
saja.
04.32
Unknown



0 komentar:
Posting Komentar