Sabtu, 04 Januari 2014

Lelaki Itu Menikah [Juga], Akhirnya



Seingat saya, awal perkenalan dengannya terjadi di bilangan 2009. Hari itu, ada permintaan pertemanan di notifikasi messenger. Saya curiga dan terlanjur mengira ia salah seorang yang “dikirim” masa lalu untuk memata-matai polah saya di dunia maya.

Meski curiga, toh permintaannya saya terima juga. Kepada saya dia mengaku mendapatkan kontak saya dari milis yang sama-sama kami ikuti. Saya tak langsung percaya. Meneruskan kebiasaan sedari kecil, saya mencari tahu sedetail-detailnya mengenai dia hanya untuk memastikan bahwa saya berada di lingkaran yang tepat. Ya, saya tipikal pemilih urusan segala hal, apalagi menyangkut pertemanan.

Awalnya obrolan kami hanya seputar basa-basi perkenalan biasa. Ia mengaku tengah berkutat dengan skripsinya, meski seringkali saya dapati tautan yang dia kirimkan di inbox saya. Saya curiga dia bukannya membereskan skripsi, tapi malah keasyikan pacaran dengan blognya. Dulunya saya suka sebal, berpikir dia tukang pamer yang celakanya memang lihai menulis. Ah ya, saya selalu tertarik dengan makhluk yang pintar menulis. Dengan catatan, sebatas tertarik.

Pertemanan kami biasa-biasa saja. Hingga suatu waktu saya merasa tersentil oleh sikapnya. Tidak ada yang salah, namun sisi kewanitaan saya entah kenapa tidak mau kompromi kala itu. Serta merta saya menyerangnya melalui racauan di inbox. Sangat ofensif. Itu yang pertama, dan saya berjanji tidak lagi-lagi melakukan hal bodoh semacam itu. Padanya saya nyatakan ketidaksukaan saya. Dia meminta maaf karena mungkin telah membuat saya berpikir semua lelaki sama karena perilakunya yang tidak saya suka, meskipun pada kenyataannya saya tidak punya pikiran seperti itu. Namun saya memilih diam saja menyikapi prasangkanya.

Lepas kejadian itu, kami kembali seperti biasa. Sayangnya bendera damai tak lama berkibar. Beberapa saat setelah kejadian penyerangan di inbox itu, dia mengaku kepada saya memberikan id saya pada teman saya semasa SMA. Mungkin ia tak kunjung tahu siapa wanita itu di mata saya, tapi kenyataan bahwa ia menyebarkan id itu tanpa ijin membuat saya lagi-lagi kecewa.

Setelah kejadian itu, saya dan dia benar-benar berjarak. Benar-benar abai. Saya enggan menyapanya di ranah maya, dan dia seolah memahaminya. Tak ada lagi kunjungan-kunjungan rutin di blog, tidak ada diskusi-diskusi perkara remeh temeh hingga mimpi-mimpi besar, tidak ada mention ataupun retweet di kancah perkicauan sejagad, tidak ada komunikasi. Saya merasa ada yang hilang tapi enggan mengaku kehilangan. Bahkan ketika pada akhirnya saya menatap wajahnya langsung untuk pertama kalinya di acara akad seorang teman, saya merasa hampa.

Medio 2013, temannya yang juga teman saya, berkunjung ke kontrakan saya. Si teman yang tidak tahu perkara “perang dingin yang tak bisa disebut perang” malah dengan polosnya menceritakan curhatan dia, si lelaki, kepada saya. Saya enggan sekaligus penasaran. Hingga mengalirlah sebagian (untungnya bukan semua) cerita perkara dia yang mendamba pernikahan, perkara dia yang mulai risau ketika teman-teman sebayanya sudah menjemput takdirnya masing-masing, perkara dia yang tak bisa “melangkahi” kakaknya yang nomor dua, dan perkara-perkara lainnya. Rasa penasaran saya tuntas, terbayar lunas. Tapi resah yang saya alami kian bertambah dengan segumpal sesal. Kenapa mesti kepada saya dia membocorkan curhatan si lelaki? Saya gagal untuk mengabaikan.

Seminggu yang lalu, tiba-tiba saya punya keinginan kuat menghubungi sepupunya, tidak sempat bicara banyak memang, tapi itu semua cukup untuk membuat saya mendeteksi ada sesuatu yang janggal. Dari seorang teman, akhirnya saya mendapatkan kabar yang benar-benar mengejutkan, si lelaki akan menikahi seorang teman, yang rupanya masih serumah dengan teman yang menceritakan curhatan si lelaki pada saya. Jujur, saya gagal menyembunyikan keterkejutan saya dan sialnya teman saya malah sukses menangkap ekspresi saya.

Lagi, untuk memastikan, saya mengunjungi blog si lelaki. Dan sebuah undangan pernikahan yang manis terselip di antara sekian postingan. Saya tak tahu definisi paling pas untuk mewakili perasaan saya. Mungkin sedikit kecewa, namun jangan berpikir karena saya menginginkan dia. Tapi sisi baiknya, saya lega. Betapa tidak, menyadari orang yang pernah ada di lingkaran kita menemukan kebahagiaannya adalah kebahagiaan tersendiri yang sulit dimengerti.


Pada penghujung tahun lalu, dia menikahi perempuan pilihannya. Saya? Ah, tahun ini saya hanya menginginkan menamatkan studi [dulu] saja.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons