Saya meyakini dosa saya begitu banyak. Hati kecil saya sudah
sejak lama memberi beragam pertanda. Saya tipikal manusia yang percaya bahwa
hal paling kecil dan remeh sekalipun yang kita alami adalah konsekuensi dari
apa yang pernah kita lakukan. Saya semakin yakin dosa saya begitu banyak.
Bagaimana tidak, ada bermacam hal yang tak kunjung selesai, kehidupan akademis
yang masih jauh dari capaian yang diharapkan, kondisi fisik yang kian hari kian
menurun, kondisi ruhiyah yang awut-awutan, dan tak lupa kondisi mental yang
terpental. Saya merasa di titik nadir, setidaknya sepanjang usia saya hingga
sekarang. Tapi meskipun demikian, saya bersyukur mengalami semua ini. Dengan
semua ketidaksiapan saya menghadapi semua ini, Tuhan memberikan orang-orang
pilihan yang mengitari lingkaran saya. Tuhan membuka pikiran saya, menuntun
hati saya.
Lewat semua ini, Tuhan mengajarkan kepada saya untuk bisa
membedakan antara ketulusan dan kepentingan, antara pemaksaan dan penerimaan,
antara teman dan sekedar rekanan. Tuhan membuat saya berani mengambil
keputusan-keputusan pelik yang sebelumnya tak berani saya putuskan.
Lewat semua ini, saya juga belajar bahwasanya berubah itu
sulit dan memerlukan keberlangsungan, paling tidak keberlangsungan untuk terus
memelihara kesadaran. Ada beribu godaan yang memaksa saya untuk gila. Sulit
menepisnya, bahkan terkadang saya masih larut di dalamnya. Tapi cukup beri saya
kesempatan, karena ini sulit, dan saya masih akan terus mencoba.
Lewat semua ini, akhirnya saya merasakan apa yang tengah
dialami orang-orang yang selama ini senantiasa menjadi objek dari
pertanyaan-pertanyaan tak terselesaikan. Saya bersyukur mengalami semua ini,
saya menikmatinya sekalipun tidak sedikit yang menaruh iba. Terima kasih, tapi
saya tidak perlu dikasihani. Terima kasih, tapi saya percaya hati kecil saya
masih bisa mengenali siapa-siapa yang benar-benar peduli.
Saya bersyukur mengalami semua ini, saya menikmatinya
sekalipun tidak sedikit yang menaruh iba. Saya masih mengingat dengan jelas apa
rasanya diremehkan. Saya masih mampu merasai sensasinya, bahkan untuk hal
paling detail. Bukan karena saya menyimpan dendam. Saya tidak marah, karena
saya tahu kemampuan saya. Saya tidak merasa gagal, sekalipun banyak yang
memprediksi demikian. Setidaknya saya mencoba, bukan? Kegagalan hanya ada di
kamus orang yang tidak pernah mencoba.
Saya meyakini dosa saya begitu banyak. Semua yang telah saya
alami ini sudah lebih dari cukup untuk jadi pertanda. Maafkan saya, semua.
00.37
Unknown



0 komentar:
Posting Komentar