Arsitek. Cita-cita pertama ketika masih kecil. Tapi berhubung saya orangnya pembosan jadi cita-citanya berubah terus sesuai zaman. Zaman SD ingin jadi arsitek, pas lihat teman-teman lain heboh ingin jadi dokter saya pun ikut-ikutan [sepertinya menjadi dokter adalah cita-cita favorit kebanyakan orang semasa kecil]. Tapi lepas SD saya bertemu dengan yang namanya Biologi, dan rupanya saya tak bisa menjadi karib dengan makhluk bernama Biologi itu. Sementara kata guru saya kala itu, Biologi adalah salah satu dasar yang akan menopang jika ingin menjadi dokter. Dengan berat hati saya menyatakan perpisahan dengan cita-cita masa kecil kebanyakan anak Indonesia kala itu. Tapi saya tak lantas patah hati berlarut, haluan cita-cita saya pun berubah ingin menjadi news anchor. Tapi masa itu belum ada news anchor yang berhijab di Indonesia, jadi cita-cita itu pun batal dengan sendirinya. Di akhir masa SMP, saya tiba-tiba saja mendapat ilham untuk menjadi peneliti. Tapi keinginan ini pun tak bertahan lama. Saya lagi-lagi tergoda dengan cita-cita lainnya, menjadi diplomat. Keluarga saya, alih-alih mendukung cita-cita saya untuk menjadi diplomat, mereka malah khawatir kalau nantinya saya jadi diplomat dan pergi-pergi jauh. Bagaimana keluarga? Bagaimana suami dan anak-anak. Berat. Saya masih terlalu muda rasanya untuk berpikir jauh ke arah sana. Intinya? Karena tiada dukungan, saya pun berpaling.
Awal-awal menempuh pendidikan SMA, saya tertarik untuk jadi pembawa acara jalan-jalan di televisi yang kala itu tengah booming. Saya pikir tentulah menyenangkan bisa melakukan traveling kemana-mana tanpa harus memikirkan akomodasi dan lainnya. Tapi ya lagi-lagi cita-cita itu digeser oleh yang lainnya. Hingga saya hampir menamatkan SMA, saya berkeyakinan untuk jadi akuntan saja. Saya sudah mantap mengikuti seleksi STAN ketika nanti lulus SMA. Terlebih ketika Apa dan Ibu berat melepas saya PMDK Ilmu Komputer di IPB. Nah, formulir sudah di tangan. SNMPTN saya lalui rada asal-asalan, karena jujur saya lebih berharap diterima di STAN. Tapi kenyataan berkata lain, saya lulus SNMPTN [pilihan kedua memang] dan tidak diterima di STAN. Galau, Jenderal!!! Akhirnya, saya mencoba mem-"betah"-kan diri dua semester kuliah. Semester ketiga, saya tergoda ikut tes lagi. Tapi tidak dikasih ijin. Ooooo... Yah, pada akhirnya yang saya bisa lakukan hanyalah menjejalkan kata "acceptance" alias "penerimaan" dalam hidup saya.
Lepas sarjana, sudah tahu mau jadi apa? Jadi guru seperti yang diinginkan Ibu? Tidak. Sama sekali saya tidak punya gambaran akan menjadi apa nantinya. Saya tidak lagi bisa membedakan antara "penerimaan" dan "manut macam kerbau dicocok hidungnya". Saya tak tahu mendefinisikan keadaan kala itu seperti apa. Pasrah. Putus asa. Benar-benar tidak tahu.
Hingga saat ini, ketika Allah memberi kesempatan saya menempuh pendidikan pascasarjana. Saya belum kunjung berani. Saya hanya tidak ingin muluk-muluk. Dan tahukah? Ketika anak tetangga kontrakan saya yang berumur 7 tahun menanyakan cita-cita saya baru-baru ini, saya dengan semangat '45 dan keyakinan serta kesadaran penuh menjawab, saya ingin menjadi IBU RUMAH TANGGA YANG BAIK. Sederhana. Meski si anak cuma bisa melongo beberapa saat sebelum tersenyum-senyum. Dan, dia di umurnya yang baru 7 tahun itu, bilang pada saya cita-citanya adalah menjadi direktur yang akan memimpin sebuah hotel mewah nun jauh di daerah asalnya sana, Kalimantan. Saya terkagum. Dan ya, mungkin sepertinya menjadi dokter tidak lagi sebuah cita-cita favorit yang begitu prestise di kalangan anak kecil Indonesia saat ini.
Awal-awal menempuh pendidikan SMA, saya tertarik untuk jadi pembawa acara jalan-jalan di televisi yang kala itu tengah booming. Saya pikir tentulah menyenangkan bisa melakukan traveling kemana-mana tanpa harus memikirkan akomodasi dan lainnya. Tapi ya lagi-lagi cita-cita itu digeser oleh yang lainnya. Hingga saya hampir menamatkan SMA, saya berkeyakinan untuk jadi akuntan saja. Saya sudah mantap mengikuti seleksi STAN ketika nanti lulus SMA. Terlebih ketika Apa dan Ibu berat melepas saya PMDK Ilmu Komputer di IPB. Nah, formulir sudah di tangan. SNMPTN saya lalui rada asal-asalan, karena jujur saya lebih berharap diterima di STAN. Tapi kenyataan berkata lain, saya lulus SNMPTN [pilihan kedua memang] dan tidak diterima di STAN. Galau, Jenderal!!! Akhirnya, saya mencoba mem-"betah"-kan diri dua semester kuliah. Semester ketiga, saya tergoda ikut tes lagi. Tapi tidak dikasih ijin. Ooooo... Yah, pada akhirnya yang saya bisa lakukan hanyalah menjejalkan kata "acceptance" alias "penerimaan" dalam hidup saya.
Lepas sarjana, sudah tahu mau jadi apa? Jadi guru seperti yang diinginkan Ibu? Tidak. Sama sekali saya tidak punya gambaran akan menjadi apa nantinya. Saya tidak lagi bisa membedakan antara "penerimaan" dan "manut macam kerbau dicocok hidungnya". Saya tak tahu mendefinisikan keadaan kala itu seperti apa. Pasrah. Putus asa. Benar-benar tidak tahu.
Hingga saat ini, ketika Allah memberi kesempatan saya menempuh pendidikan pascasarjana. Saya belum kunjung berani. Saya hanya tidak ingin muluk-muluk. Dan tahukah? Ketika anak tetangga kontrakan saya yang berumur 7 tahun menanyakan cita-cita saya baru-baru ini, saya dengan semangat '45 dan keyakinan serta kesadaran penuh menjawab, saya ingin menjadi IBU RUMAH TANGGA YANG BAIK. Sederhana. Meski si anak cuma bisa melongo beberapa saat sebelum tersenyum-senyum. Dan, dia di umurnya yang baru 7 tahun itu, bilang pada saya cita-citanya adalah menjadi direktur yang akan memimpin sebuah hotel mewah nun jauh di daerah asalnya sana, Kalimantan. Saya terkagum. Dan ya, mungkin sepertinya menjadi dokter tidak lagi sebuah cita-cita favorit yang begitu prestise di kalangan anak kecil Indonesia saat ini.
04.38
Unknown



0 komentar:
Posting Komentar