Kamis, 05 September 2013

Menunggu Panggilan



Saya tak habis pikir kenapa saya masih betah menunggu padahal tak ada sedikit kepastian pun terkait apa yang tengah saya nantikan. Oke. Silahkan cap saya gila. Karena meskipun saya tahu mereka mustahil menghubungi, ego saya masih menyulut mencari pembenaran bahwa atas segala sesuatu senantiasa ada pengecualian.

Saya menunggu. Masih menunggu. Terlebih untuk mereka:

******276906
Nomer ini bisa dibilang termasuk yang paling saya ingat karena nomernya yang mirip tanggal ketika saya dilahirkan. Nomer ini pernah begitu sering mampir di ponsel ketika saya SMA, tapi beranjak kuliah nomer ini sudah tak aktif lagi. Sang pemilik nomor memilih berganti SIM card dan semenjak itu kita sudah tak lagi saling mengontak meski nomor terbaru sang pemiliknya selalu ada di phonebook. Komunikasi pun hanya terbatas pada komunikasi virtual via chat di jejaring sosial. Sayangnya, tak kunjung ada percakapan berarti, apalagi untuk bertatap muka. Nyaris empat tahun, dan bodohnya saya masih berharap suatu waktu dia menghubungi saya. Lagi.

******545000
Nomornya cantik. Milik seorang teman dekat, Givin Prinanda Pitopang. Nomor ini sempat bertahan cukup lama di phonebook hingga sang pemiliknya yang kuliah di sekolah pelayaran memulai petualangannya di lautan. Semenjak itu, nomor ini tak lagi bisa dihubungi dan saya menjadi teman yang hanya bisa menunggu untuk dihubungi karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk dihubungi via ponsel.

Hey kalian... Andai saja aku punya cukup keberanian untuk memulai lagi. Tapi yang aku rasakan sekarang, dan sepenuhnya dibenarkan oleh egoku, adalah lebih baik untuk memilih diam. Barangkali saja, kalian memang tak ingin ditemukan, bukan?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons