Malam ini aku sudah tak lagi setengah gila. Kegilaanku menggenapi dirinya. Luntang lantung tak tahu kemana menuju, hanya mencari bayanganmu di sudut-sudut Jogja. Berharap malam ini menemukanmu, berharap badai di kepala mereda, agak sedikit saja. Dulu, hampir selalu kamu yang ku tuju. Kamu masih tempat terbaik menumpahkan semua ini. Kamu masih teman terbaik berbagi kisah. Sekalipun kamu tak pernah suka dengan ketergantunganku.
Sayang, aku belajar. Belajar menjauh, sekalipun jarak dari dulu memang tidak berbaik hati pada kita. Belajar mendewasakan diri tanpamu. Belajar kokoh di atas pijakanku. Tapi tetap, aku merindukanmu.
Aku, yang kau inginkan mandiri, masih sulit membohongi hati. Aku tahu, kau tak bermaksud menyakiti. Aku tahu, kau abai agar aku tahan bertemankan sepi. Aku tahu. Tapi malam ini, aku merindukanmu.
Malam ini, memutari sudut-sudut kota, hanya memimpikanmu pertemuan dengan bayanganmu. Bayanganmu. Bahkan sekedar bayangan pun sulit untuk ditemukan. Malam ini kegilaanku tampaknya menggenapi diri. Mencari sesuatu yang sudah pasti tiada disini.
Kenapa jarak masih saja tega? Kenapa waktu masih saja kejam? Bahkan untuk kita sekedar bertegur sapa. Kenapa tanah seberang begitu jauh dari jangkauan? Malam ini, biarkan aku menambah kepingan rindu untukmu. Biar, biarlah dulu. Semoga nanti aku diberi waktu. Biar, biarlah dulu.
Kota ini tak pernah indah, tanpa kamu.
22.13
Unknown

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar