Saya tipikal orang yang tidak gampang percaya begitu saja pada orang lain. Banyak yang bilang hal ini bagus, saya bisa lebih hati-hati. Namun tidak sedikit juga yang menilai sebaliknya. Saya sendiri tidak pernah berani mengambil kesimpulan apakah sifat saya yang satu ini bagus atau tidak. Namun belakangan saya cukup terganggu dan tidak nyaman dengan hal yang satu ini.
Ceritanya, ada beberapa orang yang sudah menganggap saya "sahabat-sampai-mati"-nya. Namun sebaliknya, saya justru menganggap relasi yang kami jalani hanya biasa-biasa saja. Seringkali saya merasa berdosa pada mereka. Persahabatan yang mereka tawarkan menjadi beban berat bagi saya. Bukan saya tidak mau bersahabat, tapi sulit bagi saya menumbuhkan kepercayaan pada orang-orang.
Sejauh ini, pemahaman saya mungkin teramat sangat dangkal. Saya masih sulit untuk percaya bahwa ada orang-orang yang ditakdirkan menjadi "sahabat sejati" bagi kita. Bukankah sebuah hubungan sedikit banyaknya selalu dilandasi asas manfaat? Adakah yang pure "cuma ingin berteman"? Ada? Lantas kalau teman itu tak kunjung memberi manfaat, apa kita masih akan tetap berteman?
Banyak orang yang bilang pada saya, tentu saja ada. Itu lah yang namanya sahabat. Sahabat akan sangat berbeda ketimbang cuma "teman".
Saya percaya kita musti berinteraksi dengan orang lain. Saya percaya kita butuh sosialisasi. Tapi kepercayaan saya mungkin baru sampai disitu. Konsep yang saya punya baru sampai di tahap "kita butuh relasi". Entahlah. Bagi saya, seringkali saya lebih menikmati kesendirian. Seringkali saya lebih nyaman melakukan monolog rahasia di alam pikiran saya, ketimbang menikmati obrolan seru dengan orang lain.
Apakah saya tidak pernah menganggap orang lain sahabat saya? Pernah.
Tapi itu pun setelah menjalani hubungan yang pasang surut. Setelah
proses yang teramat sangat panjang. Setelah proses mengerti, memahami,
menerima, dan proses lainnya.
04.03
Unknown

Posted in: 

3 komentar:
coba rada di buat menjadi sebuah cerita yang dikaitkan satu sama lain,,, dari kepingan-kepingan menjadi alinea, kemudian pragraf, lanjut ke halaman, dan terakhir menjadi buku/ novel.
Pasti menarik,,,
The special is for your self...to read your first book/novel. :D
kamu tau kan dek, draft novel ku yg dari sma gak pernah aku selesaikan..hahaha
mengakhiri itu ternyata lebih susah ketimbang memulai
makanya,,, bikin novel tanpa akhir aja. Kan jadi menarik,,, biar pikiran pembaca jadi bebas menerawang akhir cerita sesuka imajinasi masing-masing. Akhir bukan selalu jadi ending lah. Emang nulis skripsweet yang harus selalu diakhiri dengan ending (re: kesimpulan).
-,-
Posting Komentar