Jumat, 01 Februari 2013

I am A Sinner



Pada akhirnya buih itu hanya akan singgah sebentar di pepasir pantai. Apa yang mesti ditakuti. Semuanya akan pudar seiring waktu karena keabadian bukan milikku. Hati ini masih berharap satu hal, sebuah kebenaran yang hakiki. Bukan hanya pembenaran atas sikap yang tanpa dasar.

Aku lemah, lelah… seumpama butiran pasir pantai. Dihempas gelombang ombak, didera terik mentari. Tapi tak mengapa. Aliran ombak yang akan melembabkanku, menyatukanku dengan butir yang lain. Tak mengapa, karena mentari yang kan menghangatkanku. Apa yang mesti aku sesali. Semua ini terlalu berharga untuk diratapi. Mungkin hanya langkah-langkah yang tak pasti diredam kepongahan dosa yang menggunung. Aku bisa apa? Cuma berusaha berikan yang terbaik untuk semua ini. Tapi itupun tak akan pernah cukup karena tiap jiwa inginkan hal yang berbeda. Aku lelah jika mesti membahagiakan semua orang. Aku manusia. Manusia. Aku lelah. Lelah karena sikap itu tak kunjung bicara nyata.

Wahai manusia..aku ini pendosa. Bahkan aku terlalu angkuh dengan semua dosa itu. Duhai manusia, hakimi aku jika itu akan biaskan sesakmu, akan puaskan egomu. Aku tak apa-apa. Aku tak akan tersungkur dan menyerah begitu saja. Aku lebih memilih begini, disini, dan tak bersembunyi.

Aku seorang pendosa. Pendosa yang dengan mudahnya kau hakimi. Ya, masing-masing kalian kini telah bermetamorfosa menjadi hakim paling agung sejagad raya. Dan aku tersangka satu-satunya. Seumpama pasir yang tak berarti apa-apa ketimbang mutiara dasar lautan. Aku akan tetap disini. Mencari dan berbakti. Hakimi saja jika itu kepuasan yang kalian damba. Tapi aku akan tetap disini. Mencari dan berbakti.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons