Pada akhirnya buih itu hanya akan
singgah sebentar di pepasir pantai. Apa yang mesti ditakuti. Semuanya
akan pudar seiring waktu karena keabadian bukan milikku. Hati ini masih berharap satu hal, sebuah kebenaran yang hakiki.
Bukan hanya pembenaran atas sikap yang tanpa dasar.
Aku lemah, lelah… seumpama butiran pasir pantai. Dihempas
gelombang ombak, didera terik mentari. Tapi tak mengapa. Aliran ombak
yang akan melembabkanku, menyatukanku dengan butir yang lain. Tak
mengapa, karena mentari yang kan menghangatkanku. Apa yang mesti aku
sesali. Semua ini terlalu berharga untuk diratapi. Mungkin hanya
langkah-langkah yang tak pasti diredam kepongahan dosa yang menggunung.
Aku bisa apa? Cuma berusaha berikan yang terbaik untuk semua ini. Tapi
itupun tak akan pernah cukup karena tiap jiwa inginkan hal yang berbeda. Aku lelah jika mesti membahagiakan semua orang. Aku manusia. Manusia. Aku lelah. Lelah karena sikap itu tak kunjung bicara nyata.
Wahai
manusia..aku ini pendosa. Bahkan aku terlalu angkuh dengan semua dosa
itu. Duhai manusia, hakimi aku jika itu akan biaskan sesakmu, akan
puaskan egomu. Aku tak apa-apa. Aku tak akan tersungkur dan menyerah
begitu saja. Aku lebih memilih begini, disini, dan tak bersembunyi.
Aku
seorang pendosa. Pendosa yang dengan mudahnya kau hakimi. Ya, masing-masing kalian kini telah bermetamorfosa menjadi hakim paling agung sejagad raya. Dan aku tersangka satu-satunya. Seumpama pasir yang tak berarti apa-apa ketimbang
mutiara dasar lautan. Aku akan tetap disini. Mencari dan berbakti.
Hakimi saja jika itu kepuasan yang kalian damba. Tapi aku akan tetap disini. Mencari
dan berbakti.
14.44
Unknown

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar