Rabu, 12 Desember 2012

Tidur



Kau seringkali menertawakanku, meledek kebiasaanku tidur dimana pun ada kesempatan untuk tidur. Kau seringkali protes ketika aku lebih memilih menemani gulingku ketimbang menemanimu. Kau seringkali tidak terima jika aku lebih mencintai dunia mimpiku, ketimbang kebersamaan nyata bersamamu. Ah, maafkan aku. Tak hanya kamu, bahkan hampir semua orang terlanjur ku perlakukan begitu.

Kau, demikian juga mereka, acapkali bertanya padaku. Seringkali mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Hingga hatiku yang entah memang kebal, entah pula bebal untuk merasa, tak lagi peduli akan esensi pertanyaan itu. Aku letih mengulang-ulang penjelasan. Penjelasan yang sama berulang-ulang. Kau tahu, aku bahkan hafal luar kepala dimana titik koma uraian yang ku hadirkan. Lebih hafal ketimbang preambule UUD '45 yang sedari kecil kita ulang-ulang, kita rapal setiap Senin nya.

Tapi kau mungkin tak pernah tahu. Sejauh ini tak mungkin kau tahu. Hingga kali ini, aku putuskan untuk memberi tahumu alasan sebenarnya. Tidak hanya padamu, tapi juga pada mereka yang begitu ingin tahu kenapa aku menggilai "dunia" itu.

Oh kawan...
Aku tertawan dalam dunia tanpa kesadaran. Aku tidur. Tidur. Tidur. Tidur.
Sesukaku. Semauku. Karena dengan begitu, aku terputus dengan urusan lain meski sementara waktu. Karena dengan begitu aku tak lagi harus penat memikirkan hal-hal yang kadang tak cukup pantas rasanya untuk ku pikirkan. Karena dengan begitu, setidaknya untuk sementara waktu aku bisa menerima kenyataan, berdamai dengan keadaan, berkompromi atas semua yang tak ku inginkan.

Aku tahu. Kau akan melabeliku dengan nama baru. Tak cukup hanya dengan Tukang Tidur. Kau akan menyebutku pengecut. Karena sesungguhnya hatiku begitu ringkih untuk melawan keniscayaan. Jiwaku begitu rapuh memaknai permasalahan. Ya. Ya. Ya. Ya. Ya. Silahkan saja. Kau kira aku peduli? Tak lagi. Tak lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons