Ibu, maafkan jika di depanmu aku sulit 'ntuk mengaku. Lidahku kelu membahasakan kalbuku. Sesak yang menyeruak pada akhirnya mampat di tenggorokan. Tak sempat mampir meski di ujung lidah. Ibu, maafkan anakmu atas kedurhakaannya membohongimu. Bahkan yang lebih durhakanya, membohongi dirinya sendiri. Hal yang tentu sangat tidak engkau suka.
Ibu, terlambat kah bagiku jika pada waktunya kini aku mengaku? Aku lena dengan kegamanganku. Aku meragu atas pilihanku. Aku bingung. Entah ini kesadaran, entah inikah godaan. Sulit bagiku untuk membedakannya. Yang aku tau, aku bingung untuk menuntaskan apa yang pernah ku pilih di hadapanmu. Aku mencoba berjuang melawan kemalasanku, melepas rantai yang begitu kokoh mencengkeram semangatku.
Ibu, sungguh aku tak inginkan ini. Aku tak ingin melukis kekecewaan di wajahmu. Aku tak ingin mengguratkan pilu di selaksa hatimu. Aku tak ingin.
Ibu, aku tak tahu sekarang aku berada di fase mana. Aku tak tahu berpijak di posisi mana. Aku tak tahu. Aku buram atas keyakinanku dulu. Ibu, kalau memang ini bukan lah apa yang aku inginkan. Kalau lah memang ini pilihan yang terlanjur salah ditorehkan, aku hanya ingin kerelaanmu. Aku hanya inginkan kerelaanmu. Biarlah aku jalani seperti ini. Biar ku jalani meski tak pasti seperti yang ku ingin. Karena saat ini yang ku inginkan hanya lah kerelaanmu. Rela dengan sepenuh kerelaan. Ridha dengan sepenuh keridhaan. Aku hanya inginkan itu. Karena dengan itu, semoga Tuhan membukakan kemudahan bagiku. Semoga Tuhan sediakan jalan bagiku.
Ibu...
Maafkan aku
21.15
Unknown

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar